Salah satu bahasan yang menarik dari tafsir surat an nur ayat 40 oleh Imam Ibnul Qoyyim yang adalah tentang penglihatan yang seharusnya terhadap cahaya dan response alamiahnya. Wahyu adalah cahaya yang menerangi kehidupan kita di dunia dan akhirat. Sehingga kita perlu merespon nya dengan respon yang baik terhadap cahaya itu, agar kita mampu untuk melihat jalan hidup kita dengan tepat.
Ibnul Qoyyim
وإذا قابلتْ بصيرته الخفّاشيّة ما بعث اللّه به محمّدا ﷺ من النّور جدّ في الهرب منه
وكاد نوره يخْطف بصره فهرب إلى ظلمات الآراء الّتي هي به أنْسب وأوْلى كما قيل
خفافيش أعشاها النّهار بضوْئه ووافقها قطع من اللّيل مظلم
dalam versi lain tertulis
خفافيشُ أعشاها نهارٌ بضوئه ولاءَمَها قِطْعٌ من الليل غَيهبُ
خفافيشُ أعشاها نهارٌ بضوئه ولاءَمَها قِطْعٌ من الليل غَيهبُ
Apabila pandangan matanya seperti kelelawar, (bertemu) dengan apa yang (disampaikan) Alloh kepada Nabi Muhammad Sholallohu'alaihi wa Sallam yaitu berupa cahaya, maka dia cepat2 menghindar darinya, karena cahaya itu menyambar pandanganya. Kemudian dia lari ke kegelapan, karena itulah tempat yang cocok baginya, sebagaimana dikatakan dalam sya'ir:
khofaafisyu a'syaahaa nahaarun bi dhuu-ihi
wa laa-amahaa qith'un minal laili ghoihabu
wa laa-amahaa qith'un minal laili ghoihabu
Kelelawar itu digiring siang untuk bersarang dengan sinarnya
dan (potongan) malam yang legam menggiringnya untuk keluar
Kelelawar (kabur pandanganya) pada siang yang terang
yang sesuai baginya adalah kegelapan malam yang (legam)
Comments
Post a Comment