Skip to main content

Sikap Pendidik kepada Muridnya | Ust Yendri Junaidi

 

Nutrisi Jasmani dan Ruhani
Sebagaimana seorang anak atau bayi, yang setiap hari diberi makan, diberi gizi, diberi asupan. Maka dia akan berkembang, tumbuh dari segi fisik, menjadi kanak-kanak, kemudian remaja, sampai menjadi pemuda. Kalau seandainya bayi, diberi makanan setiap hari, tapi tidak berdampak pada perkembangan fisiknya, tidak menjadikan dia tumbuh dan matang, berarti ada masalah pada asupanya. Kita bapak ibuk, setiap minggu paling tidak diberi asupan rohani, dan sebagian kita barangkali setiap malam mengikuti kajian2 wirid2 di berbagai masjid, musholla dan juga di media elektronik. Walaupun asupan rohani tidak sama dengan asupan makanan, yang nampak langsung pada perubahan fisik dari manusia. Tetapi kita perlu juga untuk mengevaluasi diri. Sudahkah asupan2 yang kita ikuti itu, yang kita dengar itu, membuat kita semakin tumbuh dan berkembang? Dalam segi.. keimanan, dalam segi kedewasaan, dalam segi kematangan, dalam menghadapi hidup. 


Kematangan Jiwa
Maka seandainya kita yang selalu mendengarkan kajian, mengikuti ceramah2, tapi tidak berdampak pada 

  • kematangan jiwa
  • kematangan fikiran, 
  • kematangan mental, 

boleh jadi ada yang salah pada tema yang disampaikan, atau juga pada kita yang menerima. Karena ketika kita selalu diberikan nutrisi2 rohani keislaman, harus berdampak hendaknya pada mental kita, fikiran kita, cara kita menyikapi masalah2 dalam hidup ini. Maka ini saya sampaikan di awal sebagai evaluasi, muhasabah bagi saya pribadi sebagai penyampai, dan bagi bapak ibu sebagai pendengar. Karena bapak ibuk, kita sangat takut, bertambah ilmu tapi malah bertambah dosa kita. Justru kadang2 lebih baik tidak berilmu, dalam kondisi jahil, tidak berdosa, karena tidak tahu. Daripada berilmu tapi berdosa. Maka semoga kita tidak termasuk golongan itu, golongan yang malah sesudah tahu, maka dia berdosa. Bapak ibuk, dengan kesempatan yang terbatas ini, barangkali ini masih ada kaitan dengan hubungan dengan apa yang kita sampaikan beberapa minggu yang lalu. 


Kisah Abdulloh bin Umar
Tapi akan saya mulai dengan sebuah riwayat atau kisah, yang disebutkan oleh para ahli sejarah. Suatu ketika sahabat dari Rosululloh Saw, yang juga putra dari Umar bin Al Khottob, yang bernama Abdulloh bin Umar bin khottob, melakukan ibadah haji. Ketika berada di mekah, ada yang datang menemui Abdulloh bin Umar. Mereka ingin bertanya, tentunya sebagai sahabat Nabi, dia lebih tahu banyak tentang hadits, tahu banyak mengenai Agama. Maka datanglah beberapa sahabat ini, mohon ijin untuk bertemu dengan sahabat Abdulloh bin Umar. Setelah mereka berada dihadapan Abdulloh bin Umar, mereka melontarkan pertanyaan mereka. Apa kata mereka? wahai sahabat Rosululloh, bagaimana hukumnya kalau seandainya ada nyamuk, yang hinggap di tubuh kita, atau dipakaian kita, lalu kita bunuh, darah yang keluar dari bekas nyamuk yang mati, itu kemudian menempel di pakaian kita, apa hukumnya? Sahkah kita sholat, dengan pakaian yang terkena darah nyamuk itu? 


Menjawab pertanyaan
Ini pertanyaan mereka kepada sahabat Abdulloh bin Umar. Pertanyaan yang kita lihat sangat wajar, dilemparkan oleh orang yang tidak tahu, tentang hukum darah nyamuk yang melekat di pakaian atau di badan. Tapi Abdulloh bin Umar bukanlah orang sembarangan, tidak setiap tanya itu dijawab. Kalaupun dijawab, jawabanya harus sesuai dengan kondisi si penanya. Bapak ibuk, ini sedikit kita ulas. Kadang2 kita sebagai guru, atau kami yang sebagai ustadz yang tahu agama. Menjawab pertanyaan itu tidak memperhatikan kondisi si penanya. Sehingga jawaban yang diberikan jawaban yang umum, kadang malah ngambang. Tidak disesuaikan dengan apa yang dialami oleh si Penanya. Maka kalau coba kita lihat, hadits2 dari Rosululloh Saw, kita akan menemukan bagaimana metode Nabi itu akan sangat luar biasa dalam menjawab setiap pertanyaan. Dan tidak jarang, pertanyaan yang sama, bisa berbeda jawabanya. Kenapa? (tergantung) pada kondisi si penanya


Ada sebuah hadits, yang diriwayatkan oleh Al Imam At Thobroni dalam hadits al mu'jam al kabir, Suatu ketika Nabi sedang duduk2 dengan para sahabat di Masjid. Tiba2 datanglah pemuda yang masih dikatakan muda, baya, atau usia2 30an tahun lah. Datang menemui Nabi, dan beliau bertanya, Yaa Rosulalloh, A uqobbilu zaujati, wa anna shoim? tentu ciuman2 di bibir... di siang hari puasa? Kata Nabi.. laa tidak boleh. Kemudian beliau minta izin untuk pulang. Tidak berapa lama setelah itu datang lagi orang baru, Agak lebih tua lah usianya, 60an, 50an, datang menemui Nabi, melontarkan pertanyaan yang sama persis, bolehkah saya mencium istri saya di siang hari berpuasa? Kira2 apa jawab Nabi? na'am, boleh. Sahabat berpandang pandangan, samo tanyo nyo.. kok beda jabanyo? Sahabatnya mulai keheranan, bertanya tanya. Kemudian Nabi bersabda, laqod alimtu limaa nadzoro ba'dhukum ba'dhon. Ambo tahu, kalian heran kan? Orang yang pertama itu masih mudo, mungkin baru sebulan dua bulan menikah. Nabi  mengkhawatirkan kalau dia diizinkan dia mencium istri saat berpuasa, khawatirnya berdampak.. maka nabi mengambil langkah antisipasi, preventif, nabi katakan gak boleh. Tapi orang yang kedua, itu sudah tua 60an, barangkali cium2 sayang. Tak ado yang perlu dikhawatirkan. Hadits ini bapak ibu, seharusnya menjadi perhatian pendidik, bagaimana memperhatikan kondisi anak didik. 

Jangan diberikan kepada orang2 yang walaupun sama pertanyaanya. 

Comments