Berikut ini adalah transkrip dari Ceramah Kyai Sa'id Aqil Siradj, yang kami cuplik ketika membahas tentang tafaqquh fiddin. Beliau memaparkan tentang penggunaan fi'il mudhore' pada kata tafaqquh, yang ada di dalam al quran. Smeoga bermanfaat.
Alloh berfirman menggunakan fi'il mudhore'.
وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِیَنفِرُوا۟ كَاۤفَّةࣰۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةࣲ مِّنۡهُمۡ طَاۤىِٕفَةࣱ
لِّیَتَفَقَّهُوا۟ فِی ٱلدِّینِ وَلِیُنذِرُوا۟ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوۤا۟ إِلَیۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ یَحۡذَرُونَ
Surat At Taubah 122
yatafaqqohu
fi'il mudhore' itu zamanya hal dan istiqbal. Fi'il mudhore itu kata kerja yang zamanya sekarang dan akan datang (future). Artinya ketika kita memahami agama harus menyiapkan pemahaman untuk sekarang dan masa depan harus kontekstual, harus nyambung (muqtadhol hal) munasabah liz zaman wal makan sekarang dan yang akan datang Imam Asy Syaf'i niku wonten qoul qodim wonten qoul hadits ada pendapat ketika beliau tinggal di iraq kemudian ketika beliau pindah ke mesir berubah pendapatnya karena memang tafaqquhnya harus berubah ketika di iraq sulit air, bareng di mesir akeh banyu maka senggolan karo wong wadon, syahwan amdan bi syahwatin atau bi duni syahwatin batal wudhunya
nyenggol wong wadon, syahwat mboh ora
sengojo duko mboten, batal wudhunya
ketika di mesir, ngendikan ngoten
Imam Asy Syafi'i
Nalikane teng iraq mboten (ngoten)
kalau syahwat batal, kalau gak syahwat
gak batal.
Dan itulah beberapa contoh banyak sekali
tafaqquh fid diin
harus kontekstual
Kalau syahwat batal, kalau gak syahwat
gak batal.
Comments
Post a Comment